IDEOLOGI BERDESA

Oleh: Dr. Sutoro Eko

Menulis buku tentang desa tidak harus kerasukan kata-kata bahasa Belanda yang sudah usang. Bukan hanya usang, kata-kata bahasa Belanda sungguh mengawetkan isolasi dan penindasan atas desa. Serupa tapi tak sama, mengutamakan diskursus proyek dana desa tanpa hakekat desa, hanya memberi gula, karbohidrat dan lemak yang pelan-pelan membunuh desa. Dengan begitu diskursus hukum pemerintahan dan proyek dana desa sebenarnya meletakkan desa pada tangga martabat yang rendah.

Dr. Sutoro Eko dalam acara bedah buku “Jangan Tinggalkan Desa”

Buku “Jangan Tinggalkan Desa” karya Mas Lurah Wahyudi Anggoro Hadi (WAH) ini melampaui diskursus hukum pemerintahan dan proyek dana desa; melaju kedepan menyajikan inspirasi mikro lokal dan menantang ideologi makro nasional-global.

Secara mikro-lokal, buku ini memberi makna tentang reformasi desa melalui pendekatan politik pemerintahan.”Pendekatan budaya terlalu lama, sehingga tahun 2012 saya merebut kekuasaan tanpa politik uang, dan kemudian menggunakan otoritas untuk memaksa perubahan”, demikian ungkap Wahyudi. Di tangan Mas Wahyudi, Desa Panggungharjo berubah dari sekadar unit administratif yang menuntut kewajiban warga tetapi tidak dipercaya warga, menjadi desa baru yang melayani hak-kepentingan warga masyarakat.

Buku ini secara ideologis bicara tentang gagasan dan semangat kedaulatan desa, yang menjadi landasan “desa sebagai masa depan dunia”, karena desa memiliki air, udara bersih dan pangan. Kedaulatan bisa dicapai dengan gerakan kolaborasi, konsolidasi dan negosiasi.

Frasa ideologis “desa masa depan dunia” milik WAH, mengingatkan pada ideologi Mahatma Gandhi dan M. Hatta. Di mata Gandhi, kota adalah ciptaan kolonial yang melakukan eksploitasi desa; dan ia menegaskan: “Desa adalah masa depan India”. Bung Hatta juga punya spirit ideologis yang sering dikutip: “Indonesia tidak akan besar karena obor di Jakarta, tetapi akan bercahaya karena lilin-lilin di desa”.

Gagasan ideologis itu disebut sebagai “utopia desa”, sebuah gagasan untuk melawan konstruksi “distopia desa” dari kaum liberal Eropa seperti John Stuart Mills. Sebaliknya pendukung “utopia desa” menjuluki dan menantang “distopia kota” sebagai produk kolonial yang telah menghisap tanah, hasil bumi dan tenaga kerja desa.

Praktik reformasi desa  yang inspiratif seperti Panggungharjo harus terus disemai, dirajut dan diperluas. Gagasan dan gerakan ideologis harus terus dihadirkan dan dikumandangkan. Dalam ruang ekonomi politik yang penuh sesak dengan kontestasi atas desa hari ini, politik representasi yang menghadirkan kembali daulat desa merupakan keniscayaan masa depan.

Mengapa? Desa adalah tradisi Asia.  Desa Asia tetap bertahan meski menghadapi gempuran orientalisme, kolonialisasi, modernisasi, rural development, community development, dan neoliberalisasi. Meski bertahan, jiwa raga desa dalam kondisi sakit, yang tidak  mati tetapi juga tidak sehat dan kokoh.

Mari belajar ke India dan China. Dekolonisasi desa India terhenti karena Gandhi keburu wafat. Dekolonisasi  digantikan dengan modernisasi desa oleh Nehrudan anaknya Indira Gandhi. Daulat desa mengalami kelumpuhan. Di era baru, gagasan, politik pengetahuan dan gerakan representasi desa dihadirkan kembali. Dengan batu landasan desa, India hadir laksana gajah yang besar dan kokoh.

Desa China lebih revolusioner yang membuat negeri ini menjadi naga. Ada empat gelombang sejarah desa China. Pertama, desa sebagai situs feodalisme, despotisme dan komunalisme. Ini yang disebut KarlMarx (1865) sebagai kebodohan kehidupan pedesaan yang statis. Kedua, desa sebagai situs kolonialisasi, yakni desa dihisap oleh negara, kota dan modal. Ketiga, desa sebagai situs revolusi sejak Sun tahun 1911 dan berpuncak padarevolusi “desa mengepung kota” oleh Mao yang merebut kuasa modal kaum borjuis. Keempat, desa sebagai situs demokrasi lokal dan ekspansi kapitalisme sejak Deng 1980an. Desa’ menjadi kekuatan ekonomi  dahsyat, yang disertai dengan reforma agraria dan korporasi rakyat.

Naga China mungkin sulit dicontoh Indonesia, dan niscaya gajah India bisa menjadi contoh relevan.

PRAKTIKUM MAHASISWA ILMU PEMERINTAHAN STPMD “APMD” DI KECAMATAN TURI SLEMAN DIY

Salah satu mata kuliah wajib di Program Studi Ilmu pemerintahan STPMD “APMD” Yogyakarta adalah Praktikum. Tujuan dari mata kuliah ini yaitu memberi pemahaman secara langsung atau konkrit bagi mahasiswa terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di pemerintahan secara khusus pada pemerintahan dan masyarakat di desa. Kegiatan praktikum ini diselenggaran di wilayah Kecamatan Turi Kabupaten Sleman pada tanggal 5 s/d 8 November 2018.  Kegiatan praktikum ini berupaya untuk mendorong para mahasiswa/i agar memiliki kemampuan dalam memahami dan merasakan segala peristiwa sosial dan dinamika yang terjadi di masyarakat.

Agustinus Sakro (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan asal Kalimantan Barat) mengemukakan bahwa kegiatan praktikum ini memiliki manfaat yang sangat besar dalam perkembangan mahasiswa dalam proses perkuliahan di kampus. Kegiatan ini sangat penting. Praktikum bukan hanya soal teori namun lebih pada tataran model berpikir, mengenali, menemukan dan memecahkan permasalahan yang ditemui di lapangan. Selain itu, melalui praktikum ini juga memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai realitas lapangan yang pelik dan seringkali sangat berbeda dengan teori-teori yang digunakan.


Agustinus Sakro (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan asal Kalimantan Barat)

Mega Kharisma (Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan asal Jakarta) mengemukakan pengalaman nyata selama praktikum di Desa Giri Kerto Turi Sleman. Desa perlu dilihat sebagai kekuatan dalam pembangunan hal ini karena desa memiliki sumber daya yang seperti sumber daya alam, sumber daya sosial dan budaya yang saat ini jarang ditemukan di perkotaan. Ini menjadi kekuatan besar yang dimiliki oleh masyarakat di pedesaan. Hal yang sangat menarik yang saya dapatkan selama praktikum berlangsung yaitu tentang tata perilaku atau kebiasaan di masyarakat tempat kami praktikum di Dusun Suradadi Desa Giri Kerto. Selama praktikum kami melihat bahwa warga dusun masih hidup secara sederhana dan pola pikir yang tidak serumit masyarakat ibukota, kami merasa lebih damai disana, ditambah lagi dengan budaya yang saat ini masih terus dipelihara dan dilakukan seperti gotong royong dalam menjaga lingkungan dan saling sapa, saling tolong menolong antar tetangga,  ramah terhadap pendatang dan lain-lain. Semuaini kami alami secara nyata selama penyelenggaraan praktikum di Desa Giri KertoTuri Sleman.


Mega Kharisma (Mahasiswi Prodi Ilmu Pemerintahan asal Jakarta)

Kegiatan praktikum ini diharapkan terus mengalami inovasi dalam proses penyelenggaraan sehingg menjadi salah satu instrumen penting dalam menguatkan kapasitas, kepekaan dan pemahaman mahasiswa terhadap dinamika sosial selama menempa diri di kampus Pembangunan STPMD “APMD” Yogyakarta. Selamat berproses dan menyiapkan diri menjadi pemimpin dan pembaharu daerah. Salam

Bunga Rampai Dosen Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD”

KEBIJAKAN DAN TATA KELOLA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DAN DESA MENUJU KEMANDIRIAN

Permasalahan utama dalam tata kelola pemerintahan lokal baik itu pada level pemerintahan daerah/kota maupun pada level pemerintahan desa adalah adanya kesenjangan antara harapan warga masyarakat yang harus dipenuhi oleh pemerintah, dengan adanya berbagai keterbatasan yang dimiliki oleh pemerintah lokal. Tingginya harapan warga tidak bisa dilepaskan dengan pelaksanaan otonomi luas yang membuka ruang munculnya dinamika lokal dan pelaksanaan pilkada membuka ruang calon elit menebar asa kepada warga pemilih. Di sisi lain tata kelola pemerintahan lokal semua melakukan transformasi birokrasi ke arah good governance dalam segala bidang, utamanya pada bidang pembangunan dan pelayanan publik. Untuk itulah perlunya kreativitas dan inovasi dalam tata kelola pemerintahan lokal untuk menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi.

Buku bunga rampai Prodi Ilmu Pemerintahan ini ingin mencoba menawarkan berbagai strategi dan terobosan, serta pembaharuan dalam tata kelola pemerintahan, sehingga mampu menjawab berbagai permasalahan. Sebagian besar tulisan ini merupakan hasil penelitian para dosen, sehingga secara empirik mempunyai landasan praktis yang kuat, disamping secara konseptual mempunyai landasan teoritis yang cukup teruji. Perpaduan kerangka konseptual dengan kerangka kontekstual inilah yang menjadi satu solusi alternatif dalam penyelesaian berbagai persoalan pemerintah daerah maupun pemerintah desa.

Secara garis besar untuk menyelesaikan berbagai persoalan pemerintahan lokal dengan semakin tingginya harapan dan tuntutan warga, maka dibutuhkan model kepemimpinan yang mampu membuka ruang bagi munculnya partisipasi warga dan inovasi serta deskresi aparat pemerintah dalam menjalankan tupoksinya, tanpa harus dibenturkan dengan regulasi yang ada. Pemanfaatan teknologi dalam mempercepat proses pelayanan publik dan mempermudah warga untuk partisipasi telah banyak dilakukan baik di level pemerintahan daerah/kota maupun juga pemerintah desa. Pelembagaan sistem partisipasi dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan lokal juga sangat dibutuhkan di era demokratisasi dan desentralisasi saat ini. Di level pemerintahan desa banyak melakukan terobosan dalam tata kelola pembangunan, terkait dengan pembangunan ekonomi seperti BUMDes menjadi icon diberbagai desa. Pemanfaatan potensi lokal baik di level kabupaten maupun desa baik itu berupa sumber daya alam, sumber daya manusia sampai nilai-nilai kearifan lokal banyak dilakukan untuk mendukung gerak dan laju perkembangan pemerintahan lokal. Semua ini berujung pada lahirnya pemerintahan lokal yang kuat, mandiri dan berorientasi kepada kesejahteraan warga masyarakat. (Dr. Supardal).

Bagi yang berminat dan ingin memiliki buku ini, bisa langsung menghubungi Sekretariat Prodi Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” Yogyakarta.

Kerjasama STPMD “APMD” YOGYAKARTA dengan KUPTM Kualalumpur

Kerjasama Internasional STPMD “APMD” YOGYAKARTA dengan KUPTM Kualalumpur

Kerjasama Internasional perguruan tinggi menjadi langkah nyata dalam meningkatkan produktivitas, evisiensi, inovasi dan mutu suatu perguruan tinggi. Dalam perkembangan masa kini, kerjasama perguruan tinggi dengan pihak-pihak lain menjadi tolak ukur dalam menilai keberhasilan suatu lembaga pendidikan. Oleh karena itu, STPMD “APMD” Yogyakarta terus mengembangkan diri sesuai dengan dinamika yang berkembang saat ini yaitu melalui kerjasama dengan berbagai elemen, salah satunya adalah perguruan tinggi di luar negeri.

Penandatanganan Letter of Intent (LoI) oleh Prof. Datu Dr. Mohamad Nasir Bin Hj. Saludin dari KUPTM dan Bapak Habib Muhsin, S.Sos, M.Si, Ketua STPMD “APMD” Yogyakarta

Pada tanggal 12 April 2018 STPMD “APMD” Yogyakarta dengan Kolej Universiti Poly-Tech Mara (KUPTM) melakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) di kampus KUPTM Kualalumpur Malaysia. Dalam penandatanganan Letter of Intent (LoI) ini STPMD “APMD” Yogyakarta diwakili langsung oleh Ketua STPMD “APMD” oleh Bapak Habib Muhsin, S.Sos, M.Si, dan pihak KUPTM di wakili oleh Prof. Datu Dr. Mohamad Nasir Bin Hj. Saludin, selaku Deputy Vice Chancellor Student Development and Campus Lifestyle.

Dalam kerjasama ini, STPMD “APMD” Yogyakarta dan KUPTM menyepakati kerjasama pada bidang pendidikan dan pengajaran, pertukaran materi pembelajaran, pertukaran pelajar dan dosen, penelitian bersama, dan publikasi bersama. Melalui kerjasama ini diharapkan kedua belah pihak mampu mengembangkan berbagai inovasi dalam pengembangan keilmua sesuai dengan bidang-bidang keahlian pada masing-masing lembaga.

Pemateri Diskusi : Dr. Widodo Triputro, MM, M.Si, Dr. Yuni Satia Rahayu, M.A, Drs. Oelin Marliantoro, M.Si, dan Gregorius Sahdan, S.IP, M.A. Moderator: Dr. Sharifah Syahirah Binti Syeh Sheikh

Bersamaan dengan penandatangan Letter of Intent (LoI) antara STPMD “APMD” dengan KUPTM, juga dalam waktu yang bersamaan diselenggarakan diskusi bersama yang mengangkat tema: Social Development, Politic and Indonesia Governance). Yang menjadi pemateri yaitu: Dr. Widodo Triputro, MM, M.Si, Direktur Pascasarjana STPMD “APMD”; Dr. Yuni Satia Rahayu, M.A, Dosen Pascasarjana dan Sarjana Program Studi Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD”; Drs. Oelin Marliantoro, M.Si, Ketua Program Studi Ilmu Sosiatri STPMD “APMD”;  dan Gregorius Sahdan, S.IP, M.A, Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD”. Hadir sebagai moderator dari KUPTM yaitu: Dr. Sharifah Syahirah Binti Syeh Sheikh.

Kegiatan ini diakhiri dengan foto bersama.

Seminar Internasional dan Kerjasama STPMD “APMD” dengan Universitas San Antonio Texas

Seminar Internasional “Rural Community Empowerment: Family Life and Health”

STPMD “APMD” Yogyakarta merupakan perguruan tinggi yang konsen pada berbagai permasalahan dilingkungan  sosial masyarakat secara khusus pada lingkup masyarakat desa. STPMD “APMD” terus berupaya menggali dan membangun pemahaman tentang peran keluarga dalam pertumbuhan dan perkembangan individu. Seminar Internationl yang diselenggarakan pada tanggal 16 Maret 2018 dengan tema: “Rural Community Empowerment: Family Life and Health” di gedung Soetopo STPMD “APMD” Yogyakarta. Dalam seminar ini panitia menghadirkan para pakar di bidangnya sebagai pembicara yaitu: Prof. Xu Xiaohe, Ph.D, Department Chair of Sociology the University of Texas at San Antonio, Prof. Thankam Sunil, Ph.D, Director The Institute for Health Disparities Research the University of Texas at San Antonio, dan Rr. Leslie R. Angeningsih, Ph.D, Kepala PSAKG STPMD “APMD” Yogyakarta. Sebagai moderator daam seminar ini yaitu Dr. Tri Nugroho, Sekretaris Program Pascasarjana STPMD “APMD” Yogyakarta.

Prof. Xu Xiaohe, Ph.D, Department Chair of Sociology the University of Texas at San Antonio

Poin yang mendasar dalam seminar ini sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Xu Xiaohe, Ph.D yaitu: Kajian keluarga dapat dilakukan dari berbagai aspek dan dapat dimulai dari pembentukan keluarga sampai antar generasi. Kekerasan dalam keluarga merupakan tindakan buruk karena tindakan kekerasan dapat terjadi turun temurun, dialihkan dari satu generasi ke generasi berikutnya atau antar generasi. Oleh karena itu teori pembelajaran sosial itu adalah mengkaji/mempelajari dari kanak-kanak sampai dewasa dan hal itu dilakukan secara terus menerus. Apa yang kita pelajari sejak kecil baik langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi hidup kita, baik ketika dewasa sampai setelah perkawinan.

Prof. Thankam Sunil, Ph.D, Director The Institute for Health Disparities Research the University of Texas at San Antonio

Prof. Thankam Sunil, Ph.D juga mengemukakan beberapa poin mendasar yaitu: Kesehatan ditentukan oleh berbagai faktor yaitu faktor biologis, faktor sosial dan kombinasi antara keduanya.

Untuk hidup sehat, masyarakat perlu mengetahui faktor-faktor tersebut. Fakta menunjukkan bahwa faktor sosial memuat 68%, yang terdiri dari Individual behaviour (38%), social circumstances (23%) dan Psycal enviorentment (7%). Fakta ini menyadarkan kita betapa penting ilmu sosial. Betapa pentinya melakukan pemberdayaan masyarakat agar masyarakat semakin menyadari pentingnya faktor-faktor sosial bagi kesehatan mereka. Selanjutnya, kita semua perlu melakukan sebuah gerakan bersama memberdayakan keluarga-keluarga agar mereka hidup sehat.

Dalam pandangan Ibu Rr. Leslie R. Angeningsih, Ph.D juga menegaskan bahwa keluarga adalah tempat yang sangat penting dan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani bagi seluruh anggota keluarga. Untuk mengatasi ketidak-berdayaan anggota keluarga, khususnya kaum perempuan terhadap kekerasan, kita perlu menggalang gerakan anti kekerasan dalam keluarga, dengan memfasilitasi suatu proses dimana kebijakan dan program multisektoral dan multidisiplin ilmu dapat bekerja secara kooperatif dalam memperomosikan kehidupan keluarga yang sehat, jasmani dan rohani.

Kita perlu mendorong pemberdayaan masyarakat desa, khususnya dalam aspek pembangunan keluarga yang sehat, melalui tindakan yang berkelanjutan (terus menerus) untuk merealisasikan keluarga sehat yang penuh cinta dan gairah.

Penandatanganan Kerjasama

Dalam penyelenggaraan seminar Internasional ini juga diselenggarakan penandatanganan kerjasama dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU) antara STPMD “APMD” Yogyakarta dengan Department Sociology Universitas San Antonio Texas. Kerjasama ini menekankan pada tridarma perguruan tinggi yaitu pada bidang Pendidikan pengajaran, Penelitian dan pengembangan serta pada bidang pengabdian kepada masyarakat.

Foto bersama Ketua STPMD “APMD” dengan para narasumber

Kerjasama STPMD “APMD” dengan Pemerintah Kabupaten Tambrauw

Kerjasama Pemerintah Kabupaten Tambrauw dengan STPMD “APMD”
Pada tanggal 1 Februari 2018 kemarin, telah dilakukan MOU antara Pemerintah Kabupaten Tambrauw dengan STPMD “APMD”. Kerjasama ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan kapasitas SDM pemerintah Kabupaten Tambrauw, disatu sisi dan disisi lain sebagai perwujudan dari pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi dari STPMD “APMD”.
Sebagai langkah awal telah dikirim sejumlah pegawai untuk melanjutkan Studi Magister Ilmu Pemerintahan. Selain itu dimungkinkan pula dilaksanakan bimtek dalam rangka peningkatan kapasitas SDM ini.

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan STPMD “APMD” melalui UKM Taekwondo meraih medali perunggu di Kejurnas Taekwondo Piala Kapolres Semarang ke II

Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”  kembali berbangga, karena perwakilan dari UKM Taekwondo dan juga mahasiswa Ilmu Pemerintahan S1,  Yohusoa  Kwalepa meraih medali perunggu, Juara III Senior U-63 KG M pada “KEJUARAAN NASIONAL TAEKWONDO PIALA KAPOLRES SEMARANG ke II” dengan tema “JUJUR, BERANI, SPORTIVITAS, DAN BERPRESTASI DEMI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA” Tanggal 24-dan 25 Maret 2018 bertempat di Gor Pandanaran (Wujil) Kabupaten Semarang. Selamat dan Sukses selalu!!!

STPMD TERIMA KUNJUNGAN DARI FISIPOL UNIVERSITAS SABURAI BANDAR LAMPUNG

Selasa, 20 Februari 2018, STPMD “APMD” kedatangan tamu dari Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai Bandar Lampung. Rombongan Dosen dan Mahasiswa yang dipimpin oleh Dekan FISIPOL Universitas SABURAI, Dra. Henni Kusumastuti, M.IP,  ini bermaksud studi banding tentang pengelolaan Perguruan Tinggi dan pembangunan masyarakat desa terutama dalam hal proses pembangunan, pengelolaan, penilitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam sambutan Ketua STPMD “APMD”, Habib Muhsin, S.Sos., M.Si. menyampaikan bahwa kunjungan kali ini merupakan awal yang baik untuk kerjasama lebih lanjut dibidang Tri Dharma Perguruan Tinggi.

 

Setelah mendengarkan pemaparan dan tanya jawab, rombongan dari Universitas SABURAI melakukan kunjungan ke unit P3M, BAAK dan Perpustakaan. Diakhir kunjungan mereka meyampikan kesannya “Saya sungguh terkesan, banyak inspirasi yang saya dapatkan” demikian diungkapkan oleh salah satu peserta kunjunganya.