{"version":"1.0","provider_name":"Program Studi Ilmu Pemerintahan","provider_url":"https:\/\/ip.apmd.ac.id\/v1","title":"IDEOLOGI BERDESA - Program Studi Ilmu Pemerintahan","type":"rich","width":600,"height":338,"html":"<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"EsHFgHZTXg\"><a href=\"https:\/\/ip.apmd.ac.id\/v1\/2018\/12\/14\/ideologi-berdesa\/\">IDEOLOGI BERDESA<\/a><\/blockquote><iframe sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" src=\"https:\/\/ip.apmd.ac.id\/v1\/2018\/12\/14\/ideologi-berdesa\/embed\/#?secret=EsHFgHZTXg\" width=\"600\" height=\"338\" title=\"&#8220;IDEOLOGI BERDESA&#8221; &#8212; Program Studi Ilmu Pemerintahan\" data-secret=\"EsHFgHZTXg\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\" class=\"wp-embedded-content\"><\/iframe><script>\n\/*! This file is auto-generated *\/\n!function(d,l){\"use strict\";l.querySelector&&d.addEventListener&&\"undefined\"!=typeof URL&&(d.wp=d.wp||{},d.wp.receiveEmbedMessage||(d.wp.receiveEmbedMessage=function(e){var t=e.data;if((t||t.secret||t.message||t.value)&&!\/[^a-zA-Z0-9]\/.test(t.secret)){for(var s,r,n,a=l.querySelectorAll('iframe[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),o=l.querySelectorAll('blockquote[data-secret=\"'+t.secret+'\"]'),c=new RegExp(\"^https?:$\",\"i\"),i=0;i<o.length;i++)o[i].style.display=\"none\";for(i=0;i<a.length;i++)s=a[i],e.source===s.contentWindow&&(s.removeAttribute(\"style\"),\"height\"===t.message?(1e3<(r=parseInt(t.value,10))?r=1e3:~~r<200&&(r=200),s.height=r):\"link\"===t.message&&(r=new URL(s.getAttribute(\"src\")),n=new URL(t.value),c.test(n.protocol))&&n.host===r.host&&l.activeElement===s&&(d.top.location.href=t.value))}},d.addEventListener(\"message\",d.wp.receiveEmbedMessage,!1),l.addEventListener(\"DOMContentLoaded\",function(){for(var e,t,s=l.querySelectorAll(\"iframe.wp-embedded-content\"),r=0;r<s.length;r++)(t=(e=s[r]).getAttribute(\"data-secret\"))||(t=Math.random().toString(36).substring(2,12),e.src+=\"#?secret=\"+t,e.setAttribute(\"data-secret\",t)),e.contentWindow.postMessage({message:\"ready\",secret:t},\"*\")},!1)))}(window,document);\n\/\/# sourceURL=https:\/\/ip.apmd.ac.id\/v1\/wp-includes\/js\/wp-embed.min.js\n<\/script>\n","thumbnail_url":null,"thumbnail_width":null,"thumbnail_height":null,"description":"Oleh: Dr. Sutoro Eko Menulis buku tentang desa tidak harus kerasukan kata-kata bahasa Belanda yang sudah usang. Bukan hanya usang, kata-kata bahasa Belanda sungguh mengawetkan isolasi dan penindasan atas desa. Serupa tapi tak sama, mengutamakan diskursus proyek dana desa tanpa hakekat desa, hanya memberi gula, karbohidrat dan lemak yang pelan-pelan membunuh desa. Dengan begitu diskursus hukum pemerintahan dan proyek dana desa sebenarnya meletakkan desa pada tangga martabat yang rendah. Buku &#8220;Jangan Tinggalkan Desa&#8221; karya Mas Lurah Wahyudi Anggoro Hadi (WAH) ini melampaui diskursus hukum pemerintahan dan proyek dana desa; melaju kedepan menyajikan inspirasi mikro lokal dan menantang ideologi makro nasional-global. Secara mikro-lokal, buku ini memberi makna tentang reformasi desa melalui pendekatan politik pemerintahan.&#8221;Pendekatan budaya terlalu lama, sehingga tahun 2012 saya merebut kekuasaan tanpa politik uang, dan kemudian menggunakan otoritas untuk memaksa perubahan&#8221;, demikian ungkap Wahyudi. Di tangan Mas Wahyudi, Desa Panggungharjo berubah dari sekadar unit administratif yang menuntut kewajiban warga tetapi tidak dipercaya warga, menjadi desa baru yang melayani hak-kepentingan warga masyarakat. Buku ini secara ideologis bicara tentang gagasan dan semangat kedaulatan desa, yang menjadi landasan &#8220;desa sebagai masa depan dunia&#8221;, karena desa memiliki air, udara bersih dan pangan. Kedaulatan bisa dicapai dengan gerakan kolaborasi, konsolidasi dan negosiasi. Frasa ideologis [&hellip;]"}